Minggu, 13 Oktober 2013

tetanus neonatorum

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sebagian besar tetanus neonatorum terdapat pada bayi yang lahir dengan dukun yang belum mengikuti penataran dari Depkes. Dimana dukun – dukun ini memotong tali pusat hanya memakai alat sederhana seperti bilah bambu, pisau atau gunting yang tidak di steril dahulu, sehingga bisa menimbulkan infeksi melalui luka pada tali pusat. Infeksi yahng disebabkan oleh Clostridium Tetani dapat juga karena perawatan tali pusat yang menggunakan obat trradisional seperti abu, kapur sirih, daun-daunan, dsb. (Ngasetiyah, 1997)
Tetanus neonatorum angka kematian kasusnya (Case Fatality Rate atau CFR) sangat tinggi. Pada kasus teanus neonatorum angkanya mendekati 100 %, terutama yang mempunyai masa inkubasi kurang 7 hari. Angka kematian kasus tetanus neonatorum yahng dirawat di rumah sakit diindonesia bervariasi dengan kisaran 10,8 – 55 %. (Abdul Bari Saifuddin, 2000)

B. Tujuan Penulisan
a)      Tujuan umum
Mahasiswa/i dapat memahami tentang Tetanus Neonatorum
b)      Tujuan khusus
Mahasiswa/i dapat mengetahui dan mempelajari tentang






BAB II
PEMBAHASAN
A.                Definisi
Tetanus (rahang terkunci  adalah penyakit akut,paralitik spastik yang disebabkan oleh tetanospasmin,neurotoksin yang dihasilkan oleh Clostridium tetani. Tetanus neonatorim adalah suatu penyakit infeksi yang di sebabkan olehkuman,clostridium tetani.
Tetanus neonatorium merupakan penyebab kejang yang sering di jumpai pada BBLyang di sebabkan oleh infeksi selama masa neonatal, yang antara lain terjadi sebagaiakibat pemotogan tali pusat atau perawatan tidak aseptik.
Tetanus Neonatorum merupakan penyebab kejang yang sering dijumpai pada BBL yang bukan karena trauma kelahiran atau aspiksia,tetapi disebabkan oleh infeksi selama masa neonatal,yang antara lain terjadi sebagai akibat pemotongan tali pusar atau perawatannya yang tidak aseptic. penyebab tetanus Clostridium tetani ,yang infeksinya biasanya terjadi melalui luka pada tali pusar.Ini dapat terjadi karena pemotongan tali pusat tidak menggunakan alat-alat yang steril hanya memakai alat-alat sederhana seperti bilah bamboo atau pisau yang tidak disteril dahulu.Dapat juga karena perawatan tali pusar yang menggunakan obat-obat tradisional seperti abu dan kapur sirih dan lain-lain..
Kebanyakan tetanus neonatorum terdapat pada bayi yang lahir dengan dukun peraji yang belum mengikutu penataran dari depkes.Dermatol yang dahulu dipakai sebagai obat pusar sekarang tidak dibenarkan lagi untuk dipakai karena ternyata pada dermatol dapat dihinggapi spora clostridium tetani.Masa inkubasi penyakit ini adalah 5-14 hari.Pada umumnya tetanus neonatorum lebih cepat dan penyakit berlangsung lebih berat daripada tetanus pada anak.
B.     Gambaran Klinis
            Bayi tidak mau menetek secara tiba-tiba padahal sebelumnya biasa.Suhu tubuh dapat naik sampai 29 derajat celcius.Mulut mencucu seperti mulut ikan kemudian timbul kejang disertai sianosis,kaku kuduk,tubuh opistotonus.Perjalanan penyakit lebih cepat tidak melalui 3 stadium seperti tetanus anak besar.Bayi tidak mau menetek dan mulut mencucu (sebenarnya adalah karena primus pada otot-otot mulut).
C.        Agen Etiologi
C.tetani adalah obligat anaerob pembentukan spora,gram-positif,bergerak,yang tempat tinggal (habitat) alamiahnya di seluruh dunia yaitu di tanah,debu dan saluran pencernaan berbagai binatang.Pada ujungnya ia membentuk spora,sehingga secara mikrokopis tampak seperti pukulan genderang atau raket tenis.Spora tetanus dapat bertahan hidup dalam air mendidih tetapi tidak di dalam autoklaf,tetapi sel vegetatif terbunuh oleh antibiotik, panas dan desinfektan baku.Tidak sepertibanyak klostridia,C.tetani bukan organisme yang menginvasi jaringan, malahan menyebabkan penyakit melalui pengaruh toksin tungga,tetanospasmin yang lebih sering disebut toksin tetanus.
Toksin tetanus adalah bahan kedua yang paling beracun yang diketahui,hanya di ungguli kekuatan toksin botulinum:dosis letal toksin tetanus diperkirakan 10-6  mg/kg.
    D.    Epidemiologi
Tetanus terjadi di seluruh dunia dan endemik pada 90 negara yang sedang berkembang,tetapi inseidennya sangat bervariasi. Bentuk yang paling sering,tetanus neonatorum (umbilikus),membunuh sekurang-kurangnya 500.000 bayi setiap tahun karena ibu tidak terimunisasi;lebih dari 70% kematian ini terjadi pada sekitar 10 negara Asia dan Afrika Tropis.Lagi pula,diperkirakan 15000-30000 wanita yang tidak terimunisasi di seluruh dunia meninggal setiap tahun karena tetanus ibu yang merupakan akibat dari infeksi dengan C.tetani luka pascapartus,pascabortus ,atau pasca bedah.Sekitar 50 kasus tetanus dilaporkan setiap tahun di Amerika serikat ,kebanyakan pada orang-orang umur 60 tahun lebih tua,tetapi seusia anak belajar jalan dan kasus neonatus terjadi.
E.                 Patogenesis
Tetanus terjadi sesudah pemasukan spora yang sedang tumbuh,memperbanyak diri dan menghasilkan toksin tetanus pada potensial oksidasi-reduksi rendah (Eh) tempat jejas yang terinfeksi. Plasmid membawa gena toksin;toksin dilepaskan bersama denan sel bakteri vegetatif yang mati dan selanjutnya lisis. Toksin tetanus (dan toksin botalinum) adalah protein sederhana 150 kD yang terdiri atas rantai berat (100kD) dan ringan (50kD) yang digabung oleh ikatan disulfit. Toksin tetanus melekat pada sambungan neuromuskuler dan kemudian diendositosis oleh saraf motoris, sesudahnya ia mengalami pengankutan akson retrograd ke sitoplasmin motoneuron-alfa. Pada saraf skiatika kecepatan pengangkutan ternyata 3,4 mm/jam. Toksin keluar motoneuron dalam medula spinalis an selanjutnya masuk interneuron penghambat spinal.dimana toksin ini menghalangi pelepasan neurotransmiter. Toksin tetanus dengan demikian memblokade hambatan normal otot antagonis yang merupakan dasar gerakan disengaja yang terkoordinasi ; akoibatnya otot yang terkena mempertahankan kontraksi maksimalnya.Istem saraf autonom juga dibuat tidak stabil pada tetanus.
Kekuatan toksin tetanus yang luar biasa adalah bersifat enzimatik.Rantai ringan toksin tetanus (dan beberapa toksin botulinum) adalah Za2+  yang mengandung endoprotease yang substratnya adalah sinaptobrevin,suatu unsur pokok protein kompleks yang berkaitan yang memberi kesempatan vesikula sinaptik berfusi dengan membran sel terminal.Rantai berat toksin mengandung daerah  (domain) pengikatnya.
F.         Patologi
C.tetani bukan organisme invasif dan sel vegetatif penghasil toksinnya tetap ditempat dimana ia masuk ke dalam luka,yang mungkin menampakkan atau tidak menampakkan perubahan-perubahan lokal dan tercampur flora infeksius.
G.        Manifestasi Klinis
Tetanus neonatus (tetanus neonatorum),bentuk infantil tetanus generalisata,khas namapak dalam 3-10 hari kelahiran sebagai makin sukar dalam pemberian makanan (yaitu mengisap dan menelan) dengan disertai lapar dan menangis.Paralisis atau kehilangan gerakan,kekuatan pada sentuhan dan spasme, dengan atau tanpa opistotonus menandai penyakit.
Gejala permulaan adalah bayi mendadak tidak mau atau tidak bisa menetek karena mulut tertutup (trismus), mulut mencucu seperti ikan, dapat terjadi spasmus otot yang luas dan kejang yang umum. Leher menjadi kaku dan kepala mendongak ke atas (opistotonus). Dinding abdomen kaku, mengeras dan kalau terdapat kejang otot pernafasan, dapat terjadi sianosis. Suhu dapat meningkat sampai 39° C. Naiknya suhu ini mempunyai prognosis yang tidak baik.      



H.        Pencegahan
            Pemberian toksoid tetanus pada ibu hamil 3 kali berturut-turut pada trisemester ketiga dikatakan sangat bermanfaat untuk mencegah tetanus neonatorum.Pemotongan tali pusar harus menggunakan alat yang steril dan perawatan tali pusat selanjutnya.Komplikasi :Bronko Pneumonia aspiksia akibat obstruksi secret pada saluran pernafasan,sepsis neonatorum.
I.                   Penatalaksanaaan Medis
1.Diberikan cairan intravena dengan larutan glukosa 5% dan NaCl fisiologis dalam perbandingan 4:1 selama 48-72  jam .Selanjutnya IVFD hanya untuk memasukan obat.Jika pasien telah dirawat dari 24 jam atau pasien sering kejang atau apnea, diberikan larutan glukosa  10% dan Natrium bikarbonat 1,5% dalam perbandingan 4:1 (jika fasilitas ada lebih baik periksa analisa gas darah dahulu).Bila setelah 72 jam bayi belum mungkin diberi minum per oral atau sonde,melalui infus diberikan tambahan protein dan kalium.
2. Diazepan dosis awal 2,5 mg intravena perlahan-lahan selama 2-3 menit, kemudian diberikan dosis rumat 8-10 mg/kgBB/hari melalui IVFD  (diazepam dimasukkan ke dalam cairan infus dan diganti setiap 6 jam). Bila kejang sering timbul, boleh ditambah diazepam lagi 2,5 mg secara intravena secara perlahan-lahan dan 24 jam berikutnya boleh diberikan tambahan diazepam 5 mg/kgBB/hari sehingga dosis diazepam keseluruhannya menjadi 15mg/kgBB/hari.Setelah keadaan klinis membaik diazepam diberikan per oral dan diturunkan secara bertahap.Pada pasien dengan Hiperbilirubinemia berat atau bila makin berat diazepam diberikan per oral dan setalah bilirubin turun boleh diberikan secara intravena.
3.ATS 10.000 U/hari  , diberikan selama 2 hari berturut-turut dengan IM/infus diberikan 20.000 U sekaligus.
4.Ampisilin 100mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosisi,intravena selama 10 hari.Bila pasien menjadi sepsis pengobatan seperti pasien sepsis lainnya.Bila fungsi lumbal tidak dapat dilakukan pengobatannya seperti yag diberikan pada pasien meningitis bakterialis.
5.Tali pusat dibersihkan atau kompres dengan alkohol 70% atau betadine 10%.
6.Perhatikan jalan nafas ,diuresis, dan tanda vital.Lendir sering dihisap.
J.         Penatalaksanaan Keperawatan
            Pasien Tetanus neonatorum adalah pasien yang gawat,mudah teransang/kejang dan bila kejang selalu disertai sianosis.Spasme pada otot pernafasan sering menyebabkan pasien apnea ,spasme otot telan menyebabkan liur sering terkumpul didalam mulut dan dapat menyebabkan aspirasi.oleh karena itu pasien harus dirawat dikamar yang tenang tetapi terang. Masalah pasien yang mesti diperhatikan adalah bahaya terjadi gangguan pernafasan, kebutuhan nutrisi/cairan.dan kurangnya pengetahuan orang tua mengenai penyakit.
Tindakan pada pasien Tetanus neonatorum pada saat kejang
a.       Baringkan bayi pada sikap kepala ekstensi dengan memberikan ganjal dibawah bahunya.
b.      Berikan O2 secara rumat karena bayi selalu sianosis
c.       Pada saat kejang, pasangkan sudip lidah untuk mencegah lidah jatuh kebelakang dan juga memudahkan penghisapan lendirnya.bila ada lebih baik dipasang guedel,selama masih banyak kejang guedel dipasang terus.
d.      Sering hisab lendir, yakni pada saat kejang,jika akan melakukan nafas buatan pada saat apnea dan sewaktu-waktu terlihat lendir pada mulut bayi.
e.       Observasi tanda vital secara kontinu setiap ½ jam dan catat secara cermat.
f.       Usahakan agar tempat tidur bayi dalam keadaan hangat(pasang selubung tempat tidur/kain disekeliling tempat tidur karena selama payah bayi sering dalam keadaan telanjan, maksudnya agar memudahkan pengawasan pernafasannya). Bila bayi kedinginan juga dapat menyebabkan apnea.
Tindakan pada bayi apnea
1. isap lendirnya sampai bersih ( darimulut dan juga hidung)
2. Oksigen diberikan (dapat sampai 4L/menit)
3. letakkan bayi diatas tempat tidurnya/telapak tangan kiri penolong, tekan-tekan bagian iktus jantung, ditengah-tengah tulang dada dengan dua jari tangan kanan dengan frekuensi  50-60 kali /menit. Tekanan dapat juga dilakukan deangan kedua ibu jari di atas dada bayi dan delapan dibawah punggungnya dengan frekuensi yang sama. 
4. Bila belum berhasil,cabutlah sudip lidahnya lakukan pernafasan dengan menutup mulut dan hidung bergantian secara ritmik dengan kecepatan 50kali per menit ,bila perlu diselingi tiupan.Jika ada air viva dapat dipompakan sebanyak sama dengan kecepatan pernafasan bayi.Bila melakukan tiupan,caranya gembungkan dahulu pipi si penolong baru kemudian udara dihembuskan (dengan cara ini hembuskan udara tidak terlalu kuat sehingga bahaya terjadinya alveoli pecah dapat dicegah).Bila nafas buatan tidak segera berhasil atau bayi sering apnea,harus segera hubungi dokter.Pasien yang menderita tetanus neonatorum biasanya sejak masuk diruangan dipasang infus untuk memberikan kalori dan keperluan pengobatan secara intravena.


ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN TETANUS
1.      A.     Pengkajian
Pada pengkajian bayi dengan tetanus neonatorum dapat ditemukan adanya kesulitan menetek mulut mencucu seperti ikan karena adanya prismus pada otot mulut,sehingga bayi tidak dapat minum dengan baik.Adanya spasme otot dan kejang umum leher kaku dan terjadi opistotonus kondisi tersebut akan menyebabkan lir sering terkumpul di dalam mulut dan dapat menyebabkan aspirasi,dinding adomen kaku ,mengeras kadang-kadang terjadi kejang otot pernafasan dan sianosis, suhu meningkat sampai dengan 39ยบC dari berkerut alis mata terangkat sudut mulut tertarik ke bawah muka rhesus sardonikus,ekstremitas kaku sangat sensitive terhadap rangsangan gelisah dan menangis, masa ingkubasinya 3-10 hari.
1)      Identitas pasien
2)      Identitas orang tua:
·         Ayah : nama, usia, pendidikan, pekerjaan, agama, alamat.
·         Ibu : nama, usia, pendidikan, pekerjaan, agama, alamat
3)      Keluhan utama/alasan masuk RS.
4)      Riwayat Kesehatan
5)      Riwayat imunisasi
6)      Riwayat tumbuh kembang
7)      Riwayat kesehatan sekarang
8)      Riwayat kesehatan masa lalu
·         Ante natal care
·         Natal
·         Post natal care
9)      Riwayat kesehatan keluarga
·         Pertumbuhan fisik
·         Perkembangan tiap tahap
10)  Riwayat Nutrisi
11)  Riwayat Psikososial
12)  Riwayat Spiritual
13)  Reaksi Hospitalisasi
14)  Pemberin asi
15)  Susu Formula
16)  Pemberian makanan tambahan
17)  Pola perubahan nutrisi tiap tahap usia sampai nutrisi saat ini
             
Pemeriksaan Fisik
1.      Keadaan umum klien
2.      Tanda-tanda vital
3.      Antropometri
4.      Sistem pernafasan
5.      Sistem Cardio Vaskuler
6.      Sistem Pencernaan
7.      Sistem Indra
8.      Sistem muskulo skeletal
9.      Sistem integument
10.  Sistem Endokrin
11.  Sistem perkemihan
12.  Sistem reproduksi
13.  Sistem imun
14.  Sistem saraf : Fungsi cerebral, fungsi kranial, fungsi motorik, fungsi sensorik, fungsi cerebelum, refleks, iritasi meningen

B.      Diagnosa keperawatan
  1. Kebersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sputum pada trakea dan spame otot pernafasan.
  2. Gangguan pola nafas berhubungan dengan jalan nafas terganggu akibat spasme otot-otot pernafasan.
  3. Peningkatan suhu tubuh (hipertermia) berhubungan dengan efeks toksin (bakterimia)
  4. Pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kekakuan otot pengunya.
  5. Risiko terjadi cedera berhubungan dengan sering kejang
  6. Risiko terjadi ketidakseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan intake yang kurang dan oliguria
  7. Hubungan interpersonal terganggu berhubungan dengan kesulitan bicara
  8. Gangguan pemenuhan kebutuhan sehari-hari berhubungan dengan kondisi lemah dan sering kejang
  9. Kurangnya pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakit tetanus dan penanggulangannya berhbungan dengan kurangnya informasi.
  10. Kurangnya kebutuhan istirahat berhubungan dengan seringnya kejang 
C.      Intervensi
a)                  Dx.1.Kebersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sputum pada trakea dan spame otot pernafasan, ditandai dengan ronchi, sianosis, dyspneu, batuk tidak efektif disertai dengan sputum dan atau lendir, hasil pemeriksaan lab, Analisa Gasa Darah abnormal (Asidosis Respiratorik)
Tujuan : Jalan nafas efektif
Kriteria :
– Klien tidak sesak, lendir atau sleam tidak ada
– Pernafasan 16-18 kali/menit
– Tidak ada pernafasan cuping hidung
– Tidak ada tambahan otot pernafasan
- Hasil pemeriksaan laboratorium darah Analisa Gas Darah dalam batas normal (pH= 7,35-7,45 ; PCO2 = 35-45 mmHg, PO2 = 80-100 mmHg)
No
Intervensi
Rasional
1
Bebaskan jalan nafas dengan mengatur posisi kepala ekstensi
Secara anatomi posisi kepala ekstensi merupakan cara untuk meluruskan rongga pernafasan sehingga proses respiransi tetap berjalan lancar dengan menyingkirkan pembuntuan jalan nafas.
2
Pemeriksaan fisik dengan cara auskultasi mendengarkan suara nafas (adakah ronchi) tiap 2-4 jam sekali
Ronchi menunjukkan adanya gangguan pernafasan akibat atas cairan atau sekret yang menutupi sebagian dari saluran pernafasan sehingga perlu dikeluarkan untuk mengoptimalkan jalan nafas.
3
Bersihkan mulut dan saluran nafas dari sekret dan lendir dengan melakukan suction
Suction merupakan tindakan bantuan untuk mengeluarkan sekret, sehingga mempermudah proses respirasi
4
Oksigenasi
Pemberian oksigen secara adequat dapat mensuplai dan memberikan cadangan oksigen, sehingga mencegah terjadinya hipoksia.
5
Observasi tanda-tanda vital tiap 2 jam
Dyspneu, sianosis merupakan tanda terjadinya gangguan nafas disertai dengan kerja jantung yang menurun timbul takikardia dan capilary refill time yang memanjang/lama.
6
Observasi timbulnya gagal nafas.
Ketidakmampuan tubuh dalam proses respirasi diperlukan intervensi yang kritis dengan menggunakan alat bantu pernafasan (mekanical ventilation)
7
Kolaborasi dalam pemberian obat pengencer sekresi(mukolitik)
Obat mukolitik dapat mengencerkan sekret yang kental sehingga mempermudah pengeluaran dan memcegah kekentalan

 b)                  Dx.2.Gangguan pola nafas berhubungan dengan jalan nafas terganggu akibat spasme otot-otot pernafasan, yang ditandai dengan kejang rangsanng, kontraksi otot-otot pernafasan, adanya lendir dan sekret yang menumpuk.
Tujuan : Pola nafas teratur dan normal
Kriteria :
– Hipoksemia teratasi, mengalami perbaikan pemenuhan kebutuahn oksigen
– Tidak sesak, pernafasan normal 16-18 kali/menit
– Tidak sianosis.
No
Intervensi
Rasional
1
Monitor irama pernafasan dan respirati rate
Indikasi adanya penyimpangan atau kelaianan dari pernafasan dapat dilihat dari frekuensi, jenis pernafasan,kemampuan dan irama nafas.
2
. Atur posisi luruskan jalan nafas.
Jalan nafas yang longgar dan tidak ada sumbatan proses respirasi dapat berjalan dengan lancar.
3
Observasi tanda dan gejala sianosis
Sianosis merupakan salah satu tanda manifestasi ketidakadekuatan suply O2 pada jaringan tubuh perifer
4
. Oksigenasi
Pemberian oksigen secara adequat dapat mensuplai dan memberikan cadangan oksigen, sehingga mencegah terjadinya hipoksia
5
Observasi tanda-tanda vital tiap 2 jam
Dyspneu, sianosis merupakan tanda terjadinya gangguan nafas disertai dengan kerja jantung yang menurun timbul takikardia dan capilary refill time yang memanjang/lama.
6
Observasi timbulnya gagal nafas.
Ketidakmampuan tubuh dalam proses respirasi diperlukan intervensi yang kritis dengan menggunakan alat bantu pernafasan (mekanical ventilation).
7
Kolaborasi dalam pemeriksaan analisa gas darah.
Kompensasi tubuh terhadap gangguan proses difusi dan perfusi jaringan dapat

c)                  Dx.3.Peningkatan suhu tubuh (hipertermia) berhubungan dengan efeks toksin (bakterimia) yang dditandai dengan suhu tubuh 38-40 oC, hiperhidrasi, sel darah putih lebih dari 10.000 /mm3
Tujuan: Suhu tubuh normal
Kriteria : 36-37oC, hasil lab sel darah putih (leukosit) antara 5.000-10.000/mm3
NO
Intervensi
Rasional
1
. Atur suhu lingkungan yang nyaman.
Iklim lingkungan dapat mempengaruhi kondisi dan suhu tubuh individu sebagai suatu proses adaptasi melalui proses evaporasi dan konveksi.
2
Pantau suhu tubuh tiap 2 jam
Identifikasi perkembangan gejala-gajala ke arah syok exhaustion
3
Berikan hidrasi atau minum ysng cukup adequate
Cairan-cairan membantu menyegarkan badan dan merupakan kompresi badan dari dalam
4
Lakukan tindakan teknik aseptik dan antiseptik pada perawatan luka.
.
Perawatan lukan mengeleminasi kemungkinan toksin yang masih berada disekitar luka.
5
Berikan kompres dingin bila tidak terjadi ekternal rangsangan kejang.
Kompres dingin merupakan salah satu cara untuk menurunkan suhu tubuh dengan cara proses konduksi.
6
Laksanakan program pengobatan antibiotik dan antipieretik
Obat-obat antibakterial dapat mempunyai spektrum lluas untuk mengobati bakteeerria gram positif atau bakteria gram negatif. Antipieretik bekerja sebagai proses termoregulasi untuk mengantisipasi panas.
7
Kolaboratif dalam pemeriksaan lab leukosit.
Hasil pemeriksaan leukosit yang meningkat lebih dari 10.000 /mm3 mengindikasikan adanya infeksi dan atau untuk mengikuti perkembangan pengobatan yang diprogramkan

d)                 Dx.4.Pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kekakuan otot pengunyah yang ditandai dengan intake kurang, makan dan minuman yang masuk lewat mulut kembali lagi dapat melalui hidung dan berat badan menurun ddiserta hasil pemeriksaan protein atau albumin kurang dari 3,5 mg%.
Tujuan kebutuhan nutrisi terpenuhi.
Kriteria :
– BB optimal
– Intake adekuat
– Hasil pemeriksaan albumin 3,5-5 mg %
No.
Intervensi
Rasional
1
Jelaskan faktor yang mempengaruhi kesulitan dalam makan dan pentingnya makanabagi tubuh
Dampak dari tetanus adalah adanya kekakuan dari otot pengunyah sehingga klien mengalami kesulitan menelan dan kadang timbul refflek balik atau kesedak. Dengan tingkat pengetahuan yang adequat diharapkan klien dapat berpartsipatif dan kooperatif dalam program diit.
2
Kolaboratif :
Pemberian diit TKTP cair, lunak atau bubur kasar.
Pemberian carian per IV line
Pemasangan NGT bila perlu
Diit yang diberikan sesuai dengan keadaan klien dari tingkat membuka mulut dan proses mengunyah.
Pemberian cairan perinfus diberikan pada klien dengan ketidakmampuan mengunyak atau tidak bisa makan lewat mulut sehingga kebutuhan nutrisi terpenuhi.
NGT dapat berfungsi sebagai masuknya makanan juga untuk memberikan obat

 e)                  Dx.5.Resiko injuri berhubungan dengan aktifitas kejang
Tujuan : Cedera tidak terjadi
kriteria
-   Klien tidak ada cedera
-   Tidur dengan tempat tidur yang terpasang pengaman

Intervensi
Rasional
1
Identifikasi dan hindari faktor pencetus
Menghindari kemungkinan terjadinya cedera akibat dari stimulus kejang
2
Tempatkan pasien pada tempat tidur pada pasien yang memakai pengaman
Menurunkan kemungkinan adanya trauma jika terjadi kejang
3
Sediakan disamping tempat tidur tongue spatel
Antisipasi dini pertolongan kejang akan mengurangi resiko yang dapat memperberat kondisi klien
4
Lindungi pasien pada saat kejang
Mencegah terjadinya benturan/trauma yang memungkinkan terjadinya cedera fisik
5
Catat penyebab mulai terjadinya kejang
Pendokumentasian yang akurat, memudah-kan pengontrolan dan identifikasi kejang

f)                   Dx.6.Defisit velume cairan berhubungan dengan intake cairan tidak adekuat
Tujuan : Anak tidak memperlihatkan kekurangan velume cairan yang dengan
kriteria:
-   Membran mukosa lembab, Turgor kulit baik
No.
Intervensi
Rasional
1
Kaji intake dan out put setiap 24 jam
Memberikan informasi tentang status cairan /volume sirkulasi dan kebutuhan penggantian
2
Kaji tanda-tanda dehidrasi, membran mukosa, dan turgor kulit setiap 24 jam
Indikator keadekuatan sirkulasi perifer dan hidrasi seluler
3
Berikan dan pertahankan intake oral dan parenteral sesuai indikasi ( infus 12 tts/m, NGT 40 cc/4 jam) dan disesuaikan dengan perkembangan kondisi pasien
Mempertahankan kebutuhan cairan tubuh
4
Monitor berat jenis urine dan pengeluarannya
Mempertahankan intake nutrisi untuk kebutuhan tubuh
5
Pertahankan kepatenan NGT
Penurunan keluaran urine pekat dan peningkatan berat jenis urine diduga dehidrasi/ peningkatan kebutuhan cairan

  1. Implementasi Keperawatan
Lakukanlah apa yang harus anda lakukan pada saat itu. Dan catat apa yang telah anda lakukan tidakan pada pasien.
  1. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi semua tindakan yang telah anda berikan pada pasien. Jika dengan tindakan yang diberikan pasien mengalami perubahan menjadi lebih baik.

BAB III
PENUTUP
A.                Kesimpulan
Tetanus (rahang terkunci  adalah penyakit akut,paralitik spastik yang disebabkan oleh tetanospasmin,neurotoksin yang dihasilkan oleh Clostridium tetani. Tetanus neonatorium merupakan penyebab kejang yang sering di jumpai pada BBLyang di sebabkan oleh infeksi selama masa neonatal, yang antara lain terjadi sebagaiakibat pemotogan tali pusat atau perawatan tidak aseptik.
Tetanus Neonatorum merupakan penyebab kejang yang sering dijumpai pada BBL yang bukan karena trauma kelahiran atau aspiksia,tetapi disebabkan oleh infeksi selama masa neonatal,yang antara lain terjadi sebagai akibat pemotongan tali pusar atau perawatannya yang tidak aseptic.
            TT adalah antigen yang sangat aman dan juga aman untuk ibu hamil tidak ada bahaya bagi janin apabila ibu hamil mendapatkan imunisasi TT . Pada ibu hamil yang mendapatkan imunisasi TT tidak didapatkan perbedaan resiko cacat bawaan ataupun abortus dengan mereka yang tidak mendapatkan imunisasi.
  




DAFTAR PUSTAKA
Adam,ananda.2010.http://anandaadam31.blog.com/askep-pada-bayi-baru-lahir-dengan-tetanus-neonatorum/.diakses tanggal 9 oktober 2013
Behrman, dkk. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson Edisi 15.Jakarta : EGC
Hidayat,A.aziz alimul.2006.Pemgantar ilmu keperawatan 1.Jakarta:Salemba Medika
Ngastiyah.2005.Perawatan Anak Sakit Edisi 2.Jakarta:EGC
Rahmi,yurita.2012.http://yuritarahmi.wordpress.com/2012/11/12/askep-pada-anak-dengan-tetanus/.di akses 9 oktober 2013
















Tidak ada komentar:

Posting Komentar