BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sebagian besar tetanus neonatorum terdapat
pada bayi yang lahir dengan dukun yang belum mengikuti penataran dari Depkes.
Dimana dukun – dukun ini memotong tali pusat hanya memakai alat sederhana
seperti bilah bambu, pisau atau gunting yang tidak di steril dahulu, sehingga
bisa menimbulkan infeksi melalui luka pada tali pusat. Infeksi yahng disebabkan
oleh Clostridium Tetani dapat juga karena perawatan tali pusat yang menggunakan
obat trradisional seperti abu, kapur sirih, daun-daunan, dsb. (Ngasetiyah,
1997)
Tetanus neonatorum angka kematian kasusnya
(Case Fatality Rate atau CFR) sangat tinggi. Pada kasus teanus neonatorum
angkanya mendekati 100 %, terutama yang mempunyai masa inkubasi kurang 7 hari.
Angka kematian kasus tetanus neonatorum yahng dirawat di rumah sakit
diindonesia bervariasi dengan kisaran 10,8 – 55 %. (Abdul Bari Saifuddin, 2000)
B. Tujuan Penulisan
a)
Tujuan umum
Mahasiswa/i dapat memahami tentang Tetanus Neonatorum
b)
Tujuan khusus
Mahasiswa/i dapat mengetahui dan mempelajari tentang
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Definisi
Tetanus (rahang terkunci adalah penyakit akut,paralitik spastik yang
disebabkan oleh tetanospasmin,neurotoksin yang dihasilkan oleh Clostridium tetani. Tetanus neonatorim adalah suatu penyakit
infeksi yang di sebabkan olehkuman,clostridium tetani.
Tetanus neonatorium merupakan penyebab kejang
yang sering di jumpai pada BBLyang di sebabkan oleh infeksi selama masa
neonatal, yang antara lain terjadi sebagaiakibat pemotogan tali pusat atau
perawatan tidak aseptik.
Tetanus
Neonatorum merupakan penyebab kejang yang sering dijumpai pada BBL yang bukan
karena trauma kelahiran atau aspiksia,tetapi disebabkan oleh infeksi selama
masa neonatal,yang antara lain terjadi sebagai akibat pemotongan tali pusar atau
perawatannya yang tidak aseptic. penyebab tetanus Clostridium tetani ,yang
infeksinya biasanya terjadi melalui luka pada tali pusar.Ini dapat terjadi
karena pemotongan tali pusat tidak menggunakan alat-alat yang steril hanya
memakai alat-alat sederhana seperti bilah bamboo atau pisau yang tidak disteril
dahulu.Dapat juga karena perawatan tali pusar yang menggunakan obat-obat
tradisional seperti abu dan kapur sirih dan lain-lain..
Kebanyakan
tetanus neonatorum terdapat pada bayi yang lahir dengan dukun peraji yang belum
mengikutu penataran dari depkes.Dermatol yang dahulu dipakai sebagai obat pusar
sekarang tidak dibenarkan lagi untuk dipakai karena ternyata pada dermatol
dapat dihinggapi spora clostridium tetani.Masa inkubasi penyakit ini adalah
5-14 hari.Pada umumnya tetanus neonatorum lebih cepat dan penyakit berlangsung
lebih berat daripada tetanus pada anak.
B. Gambaran Klinis
Bayi tidak mau menetek secara tiba-tiba padahal
sebelumnya biasa.Suhu tubuh dapat naik sampai 29 derajat celcius.Mulut mencucu seperti
mulut ikan kemudian timbul kejang disertai sianosis,kaku kuduk,tubuh
opistotonus.Perjalanan penyakit lebih cepat tidak melalui 3 stadium seperti
tetanus anak besar.Bayi tidak mau menetek dan mulut mencucu (sebenarnya adalah
karena primus pada otot-otot mulut).
C. Agen Etiologi
C.tetani adalah obligat anaerob pembentukan spora,gram-positif,bergerak,yang
tempat tinggal (habitat) alamiahnya di seluruh dunia yaitu di tanah,debu dan
saluran pencernaan berbagai binatang.Pada ujungnya ia membentuk spora,sehingga
secara mikrokopis tampak seperti pukulan genderang atau raket tenis.Spora
tetanus dapat bertahan hidup dalam air mendidih tetapi tidak di dalam
autoklaf,tetapi sel vegetatif terbunuh oleh antibiotik, panas dan desinfektan
baku.Tidak sepertibanyak klostridia,C.tetani
bukan organisme yang menginvasi jaringan, malahan menyebabkan penyakit melalui pengaruh
toksin tungga,tetanospasmin yang
lebih sering disebut toksin tetanus.
Toksin tetanus adalah bahan kedua yang paling
beracun yang diketahui,hanya di ungguli kekuatan toksin botulinum:dosis letal
toksin tetanus diperkirakan 10-6 mg/kg.
D. Epidemiologi
Tetanus terjadi di seluruh dunia dan endemik
pada 90 negara yang sedang berkembang,tetapi inseidennya sangat bervariasi. Bentuk yang paling sering,tetanus neonatorum
(umbilikus),membunuh sekurang-kurangnya 500.000 bayi setiap tahun karena ibu
tidak terimunisasi;lebih dari 70% kematian ini terjadi pada sekitar 10 negara
Asia dan Afrika Tropis.Lagi pula,diperkirakan 15000-30000 wanita yang tidak
terimunisasi di seluruh dunia meninggal setiap tahun karena tetanus ibu yang
merupakan akibat dari infeksi dengan C.tetani
luka pascapartus,pascabortus ,atau pasca bedah.Sekitar 50 kasus tetanus
dilaporkan setiap tahun di Amerika serikat ,kebanyakan pada orang-orang umur 60
tahun lebih tua,tetapi seusia anak belajar jalan dan kasus neonatus terjadi.
E.
Patogenesis
Tetanus terjadi sesudah pemasukan spora yang
sedang tumbuh,memperbanyak diri dan menghasilkan toksin tetanus pada potensial
oksidasi-reduksi rendah (Eh) tempat jejas yang terinfeksi. Plasmid membawa gena toksin;toksin dilepaskan
bersama denan sel bakteri vegetatif yang mati dan selanjutnya lisis. Toksin tetanus (dan toksin botalinum) adalah
protein sederhana 150 kD yang terdiri atas rantai berat (100kD) dan ringan
(50kD) yang digabung oleh ikatan disulfit. Toksin tetanus melekat pada sambungan
neuromuskuler dan kemudian diendositosis oleh saraf motoris, sesudahnya ia mengalami pengankutan akson
retrograd ke sitoplasmin motoneuron-alfa. Pada saraf skiatika kecepatan pengangkutan
ternyata 3,4 mm/jam. Toksin keluar motoneuron dalam medula spinalis an selanjutnya masuk
interneuron penghambat spinal.dimana toksin ini menghalangi pelepasan
neurotransmiter. Toksin tetanus dengan demikian memblokade hambatan normal otot antagonis
yang merupakan dasar gerakan disengaja yang terkoordinasi ; akoibatnya otot yang terkena mempertahankan kontraksi maksimalnya.Istem
saraf autonom juga dibuat tidak stabil pada tetanus.
Kekuatan toksin tetanus yang luar biasa
adalah bersifat enzimatik.Rantai ringan toksin tetanus (dan beberapa toksin
botulinum) adalah Za2+ yang
mengandung endoprotease yang substratnya adalah sinaptobrevin,suatu unsur pokok
protein kompleks yang berkaitan yang memberi kesempatan vesikula sinaptik
berfusi dengan membran sel terminal.Rantai berat toksin mengandung daerah (domain) pengikatnya.
F. Patologi
C.tetani bukan organisme invasif dan sel vegetatif penghasil toksinnya tetap
ditempat dimana ia masuk ke dalam luka,yang mungkin menampakkan atau tidak
menampakkan perubahan-perubahan lokal dan tercampur flora infeksius.
G. Manifestasi Klinis
Tetanus neonatus (tetanus neonatorum),bentuk
infantil tetanus generalisata,khas namapak dalam 3-10 hari kelahiran sebagai makin sukar dalam
pemberian makanan (yaitu mengisap dan menelan) dengan disertai lapar dan
menangis.Paralisis atau kehilangan gerakan,kekuatan pada sentuhan dan spasme,
dengan atau tanpa opistotonus menandai penyakit.
Gejala permulaan adalah bayi mendadak tidak
mau atau tidak bisa menetek karena mulut tertutup (trismus), mulut mencucu
seperti ikan, dapat terjadi spasmus otot yang luas dan kejang yang umum. Leher
menjadi kaku dan kepala mendongak ke atas (opistotonus). Dinding abdomen kaku,
mengeras dan kalau terdapat kejang otot pernafasan, dapat terjadi sianosis.
Suhu dapat meningkat sampai 39° C. Naiknya suhu ini mempunyai prognosis yang
tidak baik.
H. Pencegahan
Pemberian toksoid tetanus pada ibu hamil 3 kali
berturut-turut pada trisemester ketiga dikatakan sangat bermanfaat untuk
mencegah tetanus neonatorum.Pemotongan tali pusar harus menggunakan alat yang
steril dan perawatan tali pusat selanjutnya.Komplikasi :Bronko Pneumonia
aspiksia akibat obstruksi secret pada saluran pernafasan,sepsis neonatorum.
I.
Penatalaksanaaan Medis
1.Diberikan cairan intravena
dengan larutan glukosa 5% dan NaCl fisiologis dalam perbandingan 4:1 selama
48-72 jam .Selanjutnya IVFD hanya untuk
memasukan obat.Jika pasien telah dirawat dari 24 jam atau pasien sering kejang
atau apnea, diberikan larutan glukosa
10% dan Natrium bikarbonat 1,5% dalam perbandingan 4:1 (jika fasilitas
ada lebih baik periksa analisa gas darah dahulu).Bila setelah 72 jam bayi belum
mungkin diberi minum per oral atau sonde,melalui infus diberikan tambahan
protein dan kalium.
2. Diazepan dosis awal 2,5
mg intravena perlahan-lahan selama 2-3 menit, kemudian diberikan dosis rumat
8-10 mg/kgBB/hari melalui IVFD (diazepam
dimasukkan ke dalam cairan infus dan diganti setiap 6 jam). Bila kejang sering
timbul, boleh ditambah diazepam lagi 2,5 mg secara intravena secara
perlahan-lahan dan 24 jam berikutnya boleh diberikan tambahan diazepam 5
mg/kgBB/hari sehingga dosis diazepam keseluruhannya menjadi
15mg/kgBB/hari.Setelah keadaan klinis membaik diazepam diberikan per oral dan
diturunkan secara bertahap.Pada pasien dengan Hiperbilirubinemia berat atau
bila makin berat diazepam diberikan per oral dan setalah bilirubin turun boleh
diberikan secara intravena.
3.ATS 10.000 U/hari , diberikan selama 2 hari berturut-turut
dengan IM/infus diberikan 20.000 U sekaligus.
4.Ampisilin 100mg/kgBB/hari
dibagi dalam 4 dosisi,intravena selama 10 hari.Bila pasien menjadi sepsis
pengobatan seperti pasien sepsis lainnya.Bila fungsi lumbal tidak dapat
dilakukan pengobatannya seperti yag diberikan pada pasien meningitis
bakterialis.
5.Tali pusat dibersihkan
atau kompres dengan alkohol 70% atau betadine 10%.
6.Perhatikan jalan nafas
,diuresis, dan tanda vital.Lendir sering dihisap.
J. Penatalaksanaan
Keperawatan
Pasien
Tetanus neonatorum adalah pasien yang gawat,mudah teransang/kejang dan bila
kejang selalu disertai sianosis.Spasme pada otot pernafasan sering menyebabkan pasien
apnea ,spasme otot telan menyebabkan liur sering terkumpul didalam mulut dan
dapat menyebabkan aspirasi.oleh karena itu pasien harus dirawat dikamar yang
tenang tetapi terang. Masalah pasien yang mesti diperhatikan adalah bahaya
terjadi gangguan pernafasan, kebutuhan nutrisi/cairan.dan kurangnya pengetahuan
orang tua mengenai penyakit.
Tindakan pada pasien Tetanus
neonatorum pada saat kejang
a.
Baringkan bayi pada sikap
kepala ekstensi dengan memberikan ganjal dibawah bahunya.
b.
Berikan O2 secara rumat karena
bayi selalu sianosis
c.
Pada saat kejang, pasangkan
sudip lidah untuk mencegah lidah jatuh kebelakang dan juga memudahkan
penghisapan lendirnya.bila ada lebih baik dipasang guedel,selama masih banyak
kejang guedel dipasang terus.
d.
Sering hisab lendir, yakni
pada saat kejang,jika akan melakukan nafas buatan pada saat apnea dan
sewaktu-waktu terlihat lendir pada mulut bayi.
e.
Observasi tanda vital secara
kontinu setiap ½ jam dan catat secara cermat.
f.
Usahakan agar tempat tidur
bayi dalam keadaan hangat(pasang selubung tempat tidur/kain disekeliling tempat
tidur karena selama payah bayi sering dalam keadaan telanjan, maksudnya agar
memudahkan pengawasan pernafasannya). Bila bayi kedinginan juga dapat
menyebabkan apnea.
Tindakan
pada bayi apnea
1.
isap lendirnya sampai bersih ( darimulut dan juga hidung)
2.
Oksigen diberikan (dapat sampai 4L/menit)
3.
letakkan bayi diatas tempat tidurnya/telapak tangan kiri penolong, tekan-tekan
bagian iktus jantung, ditengah-tengah tulang dada dengan dua jari tangan kanan
dengan frekuensi 50-60 kali /menit.
Tekanan dapat juga dilakukan deangan kedua ibu jari di atas dada bayi dan
delapan dibawah punggungnya dengan frekuensi yang sama.
4. Bila belum
berhasil,cabutlah sudip lidahnya lakukan pernafasan dengan menutup mulut dan
hidung bergantian secara ritmik dengan kecepatan 50kali per menit ,bila perlu
diselingi tiupan.Jika ada air viva dapat dipompakan sebanyak sama dengan
kecepatan pernafasan bayi.Bila melakukan tiupan,caranya gembungkan dahulu pipi
si penolong baru kemudian udara dihembuskan (dengan cara ini hembuskan udara
tidak terlalu kuat sehingga bahaya terjadinya alveoli pecah dapat dicegah).Bila
nafas buatan tidak segera berhasil atau bayi sering apnea,harus segera hubungi
dokter.Pasien yang menderita tetanus neonatorum biasanya sejak masuk diruangan
dipasang infus untuk memberikan kalori dan keperluan pengobatan secara
intravena.
ASUHAN
KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN TETANUS
1.
A. Pengkajian
Pada
pengkajian bayi dengan tetanus neonatorum dapat ditemukan adanya kesulitan
menetek mulut mencucu seperti ikan karena adanya prismus pada otot
mulut,sehingga bayi tidak dapat minum dengan baik.Adanya spasme otot dan kejang
umum leher kaku dan terjadi opistotonus kondisi tersebut akan menyebabkan lir
sering terkumpul di dalam mulut dan dapat menyebabkan aspirasi,dinding adomen
kaku ,mengeras kadang-kadang terjadi kejang otot pernafasan dan sianosis, suhu
meningkat sampai dengan 39ยบC dari berkerut alis mata terangkat sudut mulut
tertarik ke bawah muka rhesus sardonikus,ekstremitas kaku sangat sensitive
terhadap rangsangan gelisah dan menangis, masa ingkubasinya 3-10 hari.
1) Identitas pasien
2) Identitas orang tua:
·
Ayah
: nama, usia, pendidikan, pekerjaan, agama, alamat.
·
Ibu
: nama, usia, pendidikan, pekerjaan, agama, alamat
3) Keluhan utama/alasan
masuk RS.
4) Riwayat Kesehatan
5) Riwayat imunisasi
6) Riwayat tumbuh
kembang
7) Riwayat kesehatan
sekarang
8) Riwayat kesehatan
masa lalu
·
Ante natal care
·
Natal
·
Post natal care
9) Riwayat kesehatan
keluarga
·
Pertumbuhan fisik
·
Perkembangan tiap tahap
10) Riwayat Nutrisi
11) Riwayat Psikososial
12) Riwayat Spiritual
13) Reaksi Hospitalisasi
14) Pemberin asi
15) Susu Formula
16) Pemberian makanan
tambahan
17) Pola perubahan
nutrisi tiap tahap usia sampai nutrisi saat ini
Pemeriksaan Fisik
1.
Keadaan umum klien
2.
Tanda-tanda vital
3.
Antropometri
4.
Sistem pernafasan
5.
Sistem Cardio Vaskuler
6.
Sistem Pencernaan
7.
Sistem Indra
8.
Sistem muskulo skeletal
9.
Sistem integument
10.
Sistem Endokrin
11.
Sistem perkemihan
12.
Sistem reproduksi
13.
Sistem imun
14.
Sistem saraf : Fungsi cerebral, fungsi kranial, fungsi
motorik, fungsi sensorik, fungsi cerebelum, refleks, iritasi meningen
B. Diagnosa
keperawatan
- Kebersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan
dengan penumpukan sputum pada trakea dan spame otot pernafasan.
- Gangguan pola nafas berhubungan dengan jalan
nafas terganggu akibat spasme otot-otot pernafasan.
- Peningkatan suhu tubuh (hipertermia) berhubungan
dengan efeks toksin (bakterimia)
- Pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan
berhubungan dengan kekakuan otot pengunya.
- Risiko terjadi cedera berhubungan dengan sering
kejang
- Risiko terjadi ketidakseimbangan cairan dan
elektrolit berhubungan dengan intake yang kurang dan oliguria
- Hubungan interpersonal terganggu berhubungan
dengan kesulitan bicara
- Gangguan pemenuhan kebutuhan sehari-hari berhubungan
dengan kondisi lemah dan sering kejang
- Kurangnya pengetahuan klien dan keluarga tentang
penyakit tetanus dan penanggulangannya berhbungan dengan kurangnya
informasi.
- Kurangnya kebutuhan istirahat berhubungan dengan
seringnya kejang
C. Intervensi
a)
Dx.1.Kebersihan
jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sputum pada trakea dan
spame otot pernafasan, ditandai dengan ronchi, sianosis, dyspneu, batuk tidak
efektif disertai dengan sputum dan atau lendir, hasil pemeriksaan lab, Analisa
Gasa Darah abnormal (Asidosis Respiratorik)
Tujuan : Jalan nafas
efektif
Kriteria :
– Klien tidak sesak,
lendir atau sleam tidak ada
– Pernafasan 16-18
kali/menit
– Tidak ada
pernafasan cuping hidung
– Tidak ada tambahan
otot pernafasan
- Hasil pemeriksaan laboratorium
darah Analisa Gas Darah dalam batas normal (pH= 7,35-7,45 ; PCO2 = 35-45 mmHg,
PO2 = 80-100 mmHg)
No
|
Intervensi
|
Rasional
|
1
|
Bebaskan jalan nafas dengan mengatur posisi kepala
ekstensi
|
Secara anatomi posisi kepala ekstensi merupakan cara
untuk meluruskan rongga pernafasan sehingga proses respiransi tetap berjalan
lancar dengan menyingkirkan pembuntuan jalan nafas.
|
2
|
Pemeriksaan fisik dengan cara auskultasi
mendengarkan suara nafas (adakah ronchi) tiap 2-4 jam sekali
|
Ronchi menunjukkan adanya gangguan pernafasan akibat
atas cairan atau sekret yang menutupi sebagian dari saluran pernafasan
sehingga perlu dikeluarkan untuk mengoptimalkan jalan nafas.
|
3
|
Bersihkan mulut dan saluran nafas dari sekret dan
lendir dengan melakukan suction
|
Suction merupakan tindakan bantuan untuk
mengeluarkan sekret, sehingga mempermudah proses respirasi
|
4
|
Oksigenasi
|
Pemberian oksigen secara adequat dapat mensuplai dan
memberikan cadangan oksigen, sehingga mencegah terjadinya hipoksia.
|
5
|
Observasi tanda-tanda vital tiap 2 jam
|
Dyspneu, sianosis merupakan tanda terjadinya
gangguan nafas disertai dengan kerja jantung yang menurun timbul takikardia
dan capilary refill time yang memanjang/lama.
|
6
|
Observasi timbulnya gagal nafas.
|
Ketidakmampuan tubuh dalam proses respirasi
diperlukan intervensi yang kritis dengan menggunakan alat bantu pernafasan
(mekanical ventilation)
|
7
|
Kolaborasi dalam pemberian obat pengencer
sekresi(mukolitik)
|
Obat mukolitik dapat mengencerkan sekret yang kental
sehingga mempermudah pengeluaran dan memcegah kekentalan
|
b)
Dx.2.Gangguan
pola nafas berhubungan dengan jalan nafas terganggu akibat spasme otot-otot
pernafasan, yang ditandai dengan kejang rangsanng, kontraksi otot-otot
pernafasan, adanya lendir dan sekret yang menumpuk.
Tujuan : Pola nafas
teratur dan normal
Kriteria :
– Hipoksemia
teratasi, mengalami perbaikan pemenuhan kebutuahn oksigen
– Tidak sesak, pernafasan
normal 16-18 kali/menit
– Tidak sianosis.
No
|
Intervensi
|
Rasional
|
1
|
Monitor irama pernafasan dan respirati rate
|
Indikasi adanya penyimpangan atau kelaianan dari
pernafasan dapat dilihat dari frekuensi, jenis pernafasan,kemampuan dan irama
nafas.
|
2
|
. Atur posisi luruskan jalan nafas.
|
Jalan nafas yang longgar dan tidak ada sumbatan
proses respirasi dapat berjalan dengan lancar.
|
3
|
Observasi tanda dan gejala sianosis
|
Sianosis merupakan salah satu tanda manifestasi
ketidakadekuatan suply O2 pada jaringan tubuh perifer
|
4
|
. Oksigenasi
|
Pemberian oksigen secara adequat dapat mensuplai dan
memberikan cadangan oksigen, sehingga mencegah terjadinya hipoksia
|
5
|
Observasi tanda-tanda vital tiap 2 jam
|
Dyspneu, sianosis merupakan tanda terjadinya
gangguan nafas disertai dengan kerja jantung yang menurun timbul takikardia
dan capilary refill time yang memanjang/lama.
|
6
|
Observasi timbulnya gagal nafas.
|
Ketidakmampuan tubuh dalam proses respirasi
diperlukan intervensi yang kritis dengan menggunakan alat bantu pernafasan
(mekanical ventilation).
|
7
|
Kolaborasi dalam pemeriksaan analisa gas darah.
|
Kompensasi tubuh terhadap gangguan proses difusi dan
perfusi jaringan dapat
|
c)
Dx.3.Peningkatan
suhu tubuh (hipertermia) berhubungan dengan efeks toksin (bakterimia) yang
dditandai dengan suhu tubuh 38-40 oC, hiperhidrasi, sel darah putih lebih dari
10.000 /mm3
Tujuan: Suhu tubuh
normal
Kriteria : 36-37oC,
hasil lab sel darah putih (leukosit) antara 5.000-10.000/mm3
NO
|
Intervensi
|
Rasional
|
1
|
. Atur suhu lingkungan yang nyaman.
|
Iklim lingkungan dapat mempengaruhi kondisi dan suhu
tubuh individu sebagai suatu proses adaptasi melalui proses evaporasi dan
konveksi.
|
2
|
Pantau suhu tubuh tiap 2 jam
|
Identifikasi perkembangan gejala-gajala ke arah syok
exhaustion
|
3
|
Berikan hidrasi atau minum ysng cukup adequate
|
Cairan-cairan membantu menyegarkan badan dan
merupakan kompresi badan dari dalam
|
4
|
Lakukan tindakan teknik aseptik dan antiseptik pada
perawatan luka.
.
|
Perawatan lukan mengeleminasi kemungkinan toksin
yang masih berada disekitar luka.
|
5
|
Berikan kompres dingin bila tidak terjadi ekternal
rangsangan kejang.
|
Kompres dingin merupakan salah satu cara untuk
menurunkan suhu tubuh dengan cara proses konduksi.
|
6
|
Laksanakan program pengobatan antibiotik dan
antipieretik
|
Obat-obat antibakterial dapat mempunyai spektrum
lluas untuk mengobati bakteeerria gram positif atau bakteria gram negatif. Antipieretik
bekerja sebagai proses termoregulasi untuk mengantisipasi panas.
|
7
|
Kolaboratif dalam pemeriksaan lab leukosit.
|
Hasil pemeriksaan leukosit yang meningkat lebih dari
10.000 /mm3 mengindikasikan adanya infeksi dan atau untuk mengikuti
perkembangan pengobatan yang diprogramkan
|
d)
Dx.4.Pemenuhan
nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kekakuan otot pengunyah yang
ditandai dengan intake kurang, makan dan minuman yang masuk lewat mulut kembali
lagi dapat melalui hidung dan berat badan menurun ddiserta hasil pemeriksaan
protein atau albumin kurang dari 3,5 mg%.
Tujuan kebutuhan
nutrisi terpenuhi.
Kriteria :
– BB optimal
– Intake adekuat
– Hasil pemeriksaan
albumin 3,5-5 mg %
No.
|
Intervensi
|
Rasional
|
1
|
Jelaskan faktor yang mempengaruhi kesulitan dalam
makan dan pentingnya makanabagi tubuh
|
|
2
|
Kolaboratif :
Pemberian diit TKTP cair, lunak atau bubur kasar.
Pemberian carian per IV line Pemasangan NGT bila perlu |
Diit yang diberikan sesuai dengan keadaan klien dari
tingkat membuka mulut dan proses mengunyah.
Pemberian cairan perinfus diberikan pada klien dengan ketidakmampuan mengunyak atau tidak bisa makan lewat mulut sehingga kebutuhan nutrisi terpenuhi. NGT dapat berfungsi sebagai masuknya makanan juga untuk memberikan obat |
e)
Dx.5.Resiko
injuri berhubungan dengan aktifitas kejang
Tujuan : Cedera tidak terjadi
kriteria
- Klien
tidak ada cedera
- Tidur
dengan tempat tidur yang terpasang pengaman
Intervensi
|
Rasional
|
|
1
|
Identifikasi dan hindari faktor pencetus
|
Menghindari kemungkinan terjadinya cedera akibat
dari stimulus kejang
|
2
|
Tempatkan pasien pada tempat tidur pada pasien yang
memakai pengaman
|
Menurunkan kemungkinan adanya trauma jika terjadi
kejang
|
3
|
Sediakan disamping tempat tidur tongue spatel
|
Antisipasi dini pertolongan kejang akan mengurangi
resiko yang dapat memperberat kondisi klien
|
4
|
Lindungi pasien pada saat kejang
|
Mencegah terjadinya benturan/trauma yang
memungkinkan terjadinya cedera fisik
|
5
|
Catat penyebab mulai terjadinya kejang
|
Pendokumentasian yang akurat, memudah-kan
pengontrolan dan identifikasi kejang
|
f)
Dx.6.Defisit
velume cairan berhubungan dengan intake cairan tidak adekuat
Tujuan : Anak tidak memperlihatkan kekurangan velume cairan yang dengan
kriteria:
- Membran mukosa lembab, Turgor kulit baik
Tujuan : Anak tidak memperlihatkan kekurangan velume cairan yang dengan
kriteria:
- Membran mukosa lembab, Turgor kulit baik
No.
|
Intervensi
|
Rasional
|
1
|
Kaji intake dan out put setiap 24 jam
|
Memberikan informasi tentang status cairan /volume
sirkulasi dan kebutuhan penggantian
|
2
|
Kaji tanda-tanda dehidrasi, membran mukosa, dan
turgor kulit setiap 24 jam
|
Indikator keadekuatan sirkulasi perifer dan hidrasi
seluler
|
3
|
Berikan dan pertahankan intake oral dan parenteral
sesuai indikasi ( infus 12 tts/m, NGT 40 cc/4 jam) dan disesuaikan dengan
perkembangan kondisi pasien
|
Mempertahankan kebutuhan cairan tubuh
|
4
|
Monitor berat jenis urine dan pengeluarannya
|
Mempertahankan intake nutrisi untuk kebutuhan tubuh
|
5
|
Pertahankan kepatenan NGT
|
Penurunan keluaran urine pekat dan peningkatan berat
jenis urine diduga dehidrasi/ peningkatan kebutuhan cairan
|
- Implementasi Keperawatan
Lakukanlah apa yang
harus anda lakukan pada saat itu. Dan catat apa yang telah anda lakukan tidakan
pada pasien.
- Evaluasi Keperawatan
Evaluasi semua
tindakan yang telah anda berikan pada pasien. Jika dengan tindakan yang
diberikan pasien mengalami perubahan menjadi lebih baik.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Tetanus (rahang terkunci adalah penyakit akut,paralitik spastik yang
disebabkan oleh tetanospasmin,neurotoksin yang dihasilkan oleh Clostridium tetani. Tetanus neonatorium merupakan penyebab kejang
yang sering di jumpai pada BBLyang di sebabkan oleh infeksi selama masa
neonatal, yang antara lain terjadi sebagaiakibat pemotogan tali pusat atau
perawatan tidak aseptik.
Tetanus Neonatorum merupakan penyebab kejang yang
sering dijumpai pada BBL yang bukan karena trauma kelahiran atau
aspiksia,tetapi disebabkan oleh infeksi selama masa neonatal,yang antara lain
terjadi sebagai akibat pemotongan tali pusar atau perawatannya yang tidak
aseptic.
TT adalah antigen yang sangat aman dan juga aman untuk
ibu hamil tidak ada bahaya bagi janin apabila ibu hamil mendapatkan imunisasi
TT . Pada ibu hamil yang mendapatkan imunisasi TT tidak didapatkan perbedaan
resiko cacat bawaan ataupun abortus dengan mereka yang tidak mendapatkan
imunisasi.
DAFTAR PUSTAKA
Adam,ananda.2010.http://anandaadam31.blog.com/askep-pada-bayi-baru-lahir-dengan-tetanus-neonatorum/.diakses
tanggal 9 oktober 2013
Behrman, dkk. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson Edisi 15.Jakarta
: EGC
Hidayat,A.aziz
alimul.2006.Pemgantar ilmu keperawatan 1.Jakarta:Salemba
Medika
Ngastiyah.2005.Perawatan Anak Sakit Edisi 2.Jakarta:EGC
Rahmi,yurita.2012.http://yuritarahmi.wordpress.com/2012/11/12/askep-pada-anak-dengan-tetanus/.di
akses 9 oktober 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar